Silakan Berkunjung

Sederhana, namun diharapkan penuh manfaat dan pelajaran. Itulah salah satu tujuan kami mendirikan Kerajaan Banjar Virtual ini, didasari kekhawatiran akan hilangnya budaya Banjar apabila tidak dipelihara, web ini dipersembahkan sebagai dokumentasi digital bagi karya tulis dan adat hidup sehari-hari urang Banjar. Semoga web ini bisa menjadi salah satu alat pelestarian Budaya Banjar melengkapi cara-cara pelestarian budaya Banjar yang kawan-kawan lain sudah lakukan sebelumnya.
Ditulis Oleh Anak Sultan pada 09.05.10

Mengenal Nama Lambung Mangkurat

Bagi yang pernah ke Kalimantan Selatan dan memperhatikan suasana disini, pasti akan mengenal nama Lambung Mangkurat. Nama ini dipakai oleh universitas tertua di Kalimantan yaitu Universitas Lambung Mangkurat atau sering disingkat UNLAM. Tetapi banyak juga generasi muda Banjar sekarang hanya tahu namanya saja. Padahal tokoh ini adalah tokoh yang paling disebut peranannya dalam sejarah Kerajaan Negaradipa cikal bakal Kerajaan Banjar, setara dengan Mahapatih Gajah Mada dari sejarah Kerajaan Majapahit.

Tokoh legendaris ini menurunkan keturunan raja-raja Banjar berikutnya sebab Lambung Mangkurat adalah ayah dari Putri Kahuripan (hasil perkawinannya dengan Dayang Diparaja) yang kemudian dijadikan permaisuri oleh Raden Suryaganggawangsa. Adapun turunan raja-raja Banjar bermula dari Majapahit, yaitu Pangeran Suryanata (Raden Putera) adalah putra dari Kerajaan Majapahit hasil dari pertapaan.

Mangkubumi Lambung Mangkurat dikenal sebagai tokoh dengan pribadi setia dan bijaksana, tokoh kenegaraan yang cakap, tokoh militer yang tegas tanpa pilih kasih, dan sekaligus sebagai orang tua dan pendidik. Kepribadian Lambung Mangkurat selain ditentukan faktor keturunan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pada masa itu faktor lingkungan yang sangat berperan adalah sebuah lingkungan dengan unsur magis.

Di dalam sejarah kerajaan di Indonesia, sering kita temui tokoh-tokoh dengan nama binatang sebagai nama orang untuk menunjukkan fungsi atau sifat yang menyerupai nama tersebut. Misalnya Hayam Wuruk, Gajah Mada, Nara Singha Murti, Tiung Wanara, Lembu Tal, Lembu Peteng, dan salah satunya Lembu (Lambung) Mangkurat.

Nama Lambung Mangkurat terjadi dari gabungan kata “lambung”, “mangku”, “rat”. Kata “lambung” adalah dialek Banjar yang berasal dari kata “Lembung”. Di dalam bahasa Banjar huruf  ‘e’ (pepet) sering diucapkan ‘a’, misalnya kata “sesak” menjadi “sasak” sehingga “lembu” juga diucapkan menjadi “lambu”

Dari contoh itu bisa disimpulkan kata “lambung” berasal dari “lembung” kemudian terjadi penambahan “ng” akibat penyengauan untuk memudahkan penyebutan bagi masyarakat setempat zaman itu. Mungkin juga tambahan “ng” menurut bahasa Jawa Kuna/Bahasa Kawi sehingga apabila diuraikan menjadi “Lembu ng Mangkurat”. Kata “ng” menunjukkan kepemilikan (milik/menyerupai/menyamai)  atau bisa juga sama dengan kata “yang”.

Adapun gabungan kata “mangkurat” berasal dari kata “mangku” artinya memangku, mendukung, dan kata “rat” berarti jagat, dunia. Jadi seluruh gabungan “Lambung Mangkurat” berarti “lembu yang memangku dunia”. Di dalam agama Hindu Lembu/Sapi adalah binatang suci karena kesetiaannya disebabkan binatang ini menjadi kenaikan Mahadewa Siwa, dalam legenda dulu Sapi juga diceritakan sebagai binatang yang menyandang bumi di pundaknya.

Demikian sekilas tinjauan mengenai nama Lambung Mangkurat supaya generasi muda Banjar tidak terputus hubungan dengan sejarah.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

3 comments to Mengenal Nama Lambung Mangkurat

  • Wahyudinnor HM

    Tapi kanapalah kakanya Lambung Mangkurat tatap disambat Lambu Jaya Wanagiri, kada Lambung Jaya Wanagiri?
    Kutangguh, mungkin haja inilah salah satu kelemahan tutur lisan, para penuturnya tidak mengetahui sejarah, mereka asal tuturkan saja cerita tutur lisan itu turun temurun sehingga “salah sambat” di penurut ke berapa, kada katahuan lagi. Itu kira-kira manurutku haja pang. Tahu am pandapat nang lain…?

  • DATA DAN INFORMASI TENTANG LAMBUNGMANGKURAT
    [dipresentasikan dengan kode digital sistem informatika teknologi informasi]

    Hak-Cipta (C) 2013 – Achmad Firwany al Banjari.

    ? Lembu MangkuRat atau LambungMangkuRat, yang berarti Lembu Pemangku Pemerintahan, adalah:

    ? Putra ke2 dari Raja Mpu Jatmika alias MahaRaja DiCandi, NDP01, 1387–1419, pendiri dan raja pertama Kerajaan NagaraDipa [1387–1478, ±91 tahun, 8 raja], putra dari Pangeran MangkuBhumi dan Dewi Sitira, dari Kerajaan Dhaha alias DhahanaPura alias Kadhiri alias Keling alias Panjalu II [1042–1527, ±485 tahun, 28 raja, dalam 4 babak pergantian dominasi pemerintahan] di Jawa Timur, di masa Dhaha sebagai nagara dibawah dominasi Kerajaan WilwaTikta alias MajaPahit [1293–1527, ±234 tahun, 15 raja Dinasti Wijaya Wangsa Rajasa, dalam 4 babak masa pemerintahan]; dimana dalam rangkum waktu tersebut, berada dibawah raja ke19 dari Dhaha alias Bhattara Dhaha ke2 dari WilwaTika alias MajaPahit; DH19.02, 1309–1375, Bhre Dhaha II, Dyah RajaDewi MahaRajasa (–1375), istri dari Rahadiyan WijayaRajasa; bibi sekaligus ibu mertua dari raja ke4 WilwaTikta alias MajaPahit; WT04.03, 1350–1389, Raja Prabhu RajasaNagara alias Pangeran HayamWuruk (1334–1389) [Pararaton 27:15. 29:31. NagaraKartaGama 4:1]; didampingi oleh Patih Arya Tilam, dan kemudian oleh MahaPatih GajahMada [1336–1359] (±1273?–1364). Mpu Jatmika menikah dengan Dewi SekarGading alias Putri SariMangguntur, seorang putri dari Mangguntur, pusat perdagangan dan area kebudayaan dan kesenian dari Kerajaan NanSarunai [±242? SM – ±1389? M, ±1631? tahun], di Banua Lawas, Pasar Arba, di hilir Kalua, HuluSungai Utara, Kalimantan Selatan.

    ? NDP02.01, 1419–1429, raja ke2 dari Kerajaan Nagara Dhaha.

    ? Adik dari Lembu JayaWanaGiri alias Mpu Mandastana, putra mahkota atau putra sulung dari Mpu Jatmika, tapi tewas bunuhdiri bersama istrinya, ketika mengetahui dua putranya, Bambang PatmaRaga dan Bambang SukmaRaga dibunuh oleh LembuMangkuRat, karena dianggap menggoda Putri JunjungBuih, puri mahkota dari Kerajaan Kuripan. Dengan demikian, LembuMangkuRat menjadi raja ke2 NegaraDipa.

    ? Kakak dari Putri KarajangBungsu, yang berarti putri bungsu dari kerajaan, yang kemudian menjadi istri Rahadiyan Ombak alias GinTaYu, keturunan TiongHwa dari Sarawak, Malaya.

    ? Menikah dengan putri Dayak Ngaju, dan memperoleh seorang putra: Rahadiyan Putra alias Pangeran SuryaNata I, yang kemudian menikah dengan NDP03.02, 1429–1444, Ratu Galuh CiptaSari (±1409–1474) alias Putri JunjungBuih atau Putri TunjungBuih, putri mahkota dari Raja KartaPala [?], raja dari Kuripan [±1360?–1444?, ±84? tahun, 3 raja], alias Putri Ratna Janggala–Kadhiri, dan kemudian menjadi NDP04.02, 1444–1464, Raja Pangeran SuryaNata I. Maksud dari pernikahan ini adalah untuk melebur Kerajaan Kuripan kedalam Kerajaan NagaraDhaha dibawah satu raja, Ratu Galuh CiptaSari alias Putri JunjungBuih, yang kekuasaannya kemudian diambilalih oleh suaminya, Raja Pangeran SuryaNata I alias Rahadiyan Putra.

    ? Menikah dengan Putri Dayang DipaRaja, putri dari Arya Malingkan, yang meninggal ketika melahirkan, dan memperoleh seorang putri: Putri Kuripan atau Putri Huripan alias Putri Kalungsu (–1495), bergelar Putri KabuWaringin atau KeboWaringin, yang kemudian diperistri oleh, NDP05.03, 1464–1468, Raja Pangeran SuryaGanggaWangsa, putra mahkota dari pasangan Raja Pangeran SuryaNata dengan Sang PrameSwari Ratu Galuh CiptaSari alias Putri JunjungBuih, dan kemudian diceraikan, dan selanjutnya diperistri oleh, NDP07.03, 1472–1476, Raja Pangeran Arya Dewangsa alias Rahadyan CarangLalean, putra bungsu dari Raja Pangeran SuryaNata I dan Ratu Galuh CiptaSari alias Putri JunjungBuih, dan adik dari Raja Pangeran SuryaGanggaWangsa dan Raja Pangeran SuryaWangsa, dan kemudian menjadi, NDP08.03, 1476–1478, Ratu Putri Kalungsu.

    . . .

    “Pengetahuan kita memuaskan hanya, bila kita dapat menyatakannya dalam batas-batas angka-angka. Bilamana kita tak dapat mengukur tentang apa yang sedang kita katakan, bilamana kita tak dapat menyatakannya dalam batas-batas angka-angka, pengetahuan kita adalah semacam kekurangan, tak-bisa-diindrakan, dan tak-memuaskan. Itu mungkin awal pengetahuan, tapi kita mempunyai kekosongan, kehampaan, dan kekakuan dalam pikiran-pikiran kita, untuk berlanjut ke tingkat informasi yang bisa-dinyatakan dan bisa-diukur, meski hanya dalam nilai pendekatan atau aproksimasi, apapun saja kemungkinan perihalnya.” [Sir William Thomson – Lord Kelvin (1824-1907), matematikan dan fisikawan Inggris.]

    . . .

    Hak-Cipta (C) 2013 – Achmad Firwany al Banjari,
    dzuriyat ke19 Sultan Suryanullah alias Sultan SuryanSyah, Kuin,
    dzuriyat ke8 Sultan Adam al Wasyikubillaah, MartaPura, kelahiran BanjarMasin,
    ayah kelahiran MaraBahan, bekas bandar Kerajaan NagaraDhaha,
    ibu kelahiran Nagara, bekas ibukota Kerajaan NagaraDhaha dan NagaraDipa.

  • DATA DAN INFORMASI TENTANG LAMBUNGMANGKURAT
    [dipresentasikan dengan kode digital sistem informatika teknologi informasi]

    Hak-Cipta (C) 2013 – Achmad Firwany al Banjari.
     
    Lembu MangkuRat atau LambungMangkuRat, yang berarti Lembu
    Pemangku Pemerintahan, adalah:

    Putra ke2 dari Raja Mpu Jatmika alias MahaRaja DiCandi,
    NDP01, 1387–1419, pendiri dan raja pertama Kerajaan NagaraDipa [1387–1478, ±91
    tahun, 8 raja], putra dari Pangeran MangkuBhumi dan Dewi Sitira, dari Kerajaan
    Dhaha alias DhahanaPura alias Kadhiri alias Keling alias Panjalu II [1042–1527,
    ±485 tahun, 28 raja, dalam 4 babak pergantian dominasi pemerintahan] di Jawa
    Timur, di masa Dhaha sebagai nagara dibawah dominasi Kerajaan WilwaTikta alias
    MajaPahit [1293–1527, ±234 tahun, 15 raja Dinasti Wijaya Wangsa Rajasa, dalam 4
    babak masa pemerintahan]; dimana dalam rangkum waktu tersebut, berada dibawah
    raja ke19 dari Dhaha alias Bhattara Dhaha ke2 dari WilwaTika alias MajaPahit;
    DH19.02, 1309–1375, Bhre Dhaha II, Dyah RajaDewi MahaRajasa (–1375), istri dari
    Rahadiyan WijayaRajasa; bibi sekaligus ibu mertua dari raja ke4 WilwaTikta alias
    MajaPahit; WT04.03, 1350–1389, Raja Prabhu RajasaNagara alias Pangeran
    HayamWuruk (1334–1389) [Pararaton 27:15. 29:31. NagaraKartaGama 4:1]; didampingi
    oleh Patih Arya Tilam, dan kemudian oleh MahaPatih GajahMada [1336–1359]
    (±1273?–1364). Mpu Jatmika menikah dengan Dewi SekarGading alias Putri
    SariMangguntur, seorang putri dari Mangguntur, pusat perdagangan dan area
    kebudayaan dan kesenian dari Kerajaan NanSarunai [±242? SM – ±1389? M, ±1631?
    tahun], di Banua Lawas, Pasar Arba, di hilir Kalua, HuluSungai Utara, Kalimantan
    Selatan.
     

    NDP02.01, 1419–1429, raja ke2 dari Kerajaan Nagara Dhaha.
     

    Adik dari Lembu JayaWanaGiri alias Mpu Mandastana, putra
    mahkota atau putra sulung dari Mpu Jatmika, tapi tewas bunuhdiri bersama
    istrinya, ketika mengetahui dua putranya, Bambang PatmaRaga dan Bambang
    SukmaRaga dibunuh oleh LembuMangkuRat, karena dianggap menggoda Putri
    JunjungBuih, puri mahkota dari Kerajaan Kuripan. Dengan demikian, LembuMangkuRat
    menjadi raja ke2 NegaraDipa.
     

    Kakak dari Putri KarajangBungsu, yang berarti putri bungsu
    dari kerajaan, yang kemudian menjadi istri Rahadiyan Ombak alias GinTaYu,
    keturunan TiongHwa dari Sarawak, Malaya.
     

    Menikah dengan putri Dayak Ngaju, dan memperoleh seorang
    putra: Rahadiyan Putra alias Pangeran SuryaNata I, yang kemudian menikah dengan
    NDP03.02, 1429–1444, Ratu Galuh CiptaSari (±1409–1474) alias Putri JunjungBuih
    atau Putri TunjungBuih, putri mahkota dari Raja KartaPala [?], raja dari Kuripan
    [±1360?–1444?, ±84? tahun, 3 raja], alias Putri Ratna Janggala–Kadhiri, dan
    kemudian menjadi NDP04.02, 1444–1464, Raja Pangeran SuryaNata I. Maksud dari
    pernikahan ini adalah untuk melebur Kerajaan Kuripan kedalam Kerajaan
    NagaraDhaha dibawah satu raja, Ratu Galuh CiptaSari alias Putri JunjungBuih,
    yang kekuasaannya kemudian diambilalih oleh suaminya, Raja Pangeran SuryaNata I
    alias Rahadiyan Putra.
     

    Menikah dengan Putri Dayang DipaRaja, putri dari Arya
    Malingkan, yang meninggal ketika melahirkan, dan memperoleh seorang putri: Putri
    Kuripan atau Putri Huripan alias Putri Kalungsu (–1495), bergelar Putri
    KabuWaringin atau KeboWaringin, yang kemudian diperistri oleh, NDP05.03,
    1464–1468, Raja Pangeran SuryaGanggaWangsa, putra mahkota dari pasangan Raja
    Pangeran SuryaNata dengan Sang PrameSwari Ratu Galuh CiptaSari alias Putri
    JunjungBuih, dan kemudian diceraikan, dan selanjutnya diperistri oleh, NDP07.03,
    1472–1476, Raja Pangeran Arya Dewangsa alias Rahadyan CarangLalean, putra bungsu
    dari Raja Pangeran SuryaNata I dan Ratu Galuh CiptaSari alias Putri JunjungBuih,
    dan adik dari Raja Pangeran SuryaGanggaWangsa dan Raja Pangeran SuryaWangsa, dan
    kemudian menjadi, NDP08.03, 1476–1478, Ratu Putri Kalungsu.

    . . .
    "Pengetahuan kita memuaskan hanya, bila kita dapat
    menyatakannya dalam batas-batas angka-angka. Bilamana kita tak dapat mengukur
    tentang apa yang sedang kita katakan, bilamana kita tak dapat menyatakannya
    dalam batas-batas angka-angka, pengetahuan kita adalah semacam kekurangan,
    tak-bisa-diindrakan, dan tak-memuaskan. Itu mungkin awal pengetahuan, tapi kita
    mempunyai kekosongan, kehampaan, dan kekakuan dalam pikiran-pikiran kita, untuk
    berlanjut ke tingkat informasi yang bisa-dinyatakan dan bisa-diukur, meski hanya
    dalam nilai pendekatan atau aproksimasi, apapun saja kemungkinan perihalnya."
    [Sir William Thomson – Lord Kelvin (1824-1907), matematikan dan fisikawan
    Inggris.]
    . . .
    Hak-Cipta (C) 2013 – Achmad Firwany al Banjari,
    dzuriyat ke19 Sultan Suryanullah alias Sultan SuryanSyah, Kuin,
    dzuriyat ke8 Sultan Adam al Wasyikubillaah, MartaPura, kelahiran BanjarMasin,
    ayah kelahiran MaraBahan, bekas bandar Kerajaan NagaraDhaha,
    ibu kelahiran Nagara, bekas ibukota Kerajaan NagaraDhaha dan NagaraDipa.

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>