Silakan Berkunjung

Sederhana, namun diharapkan penuh manfaat dan pelajaran. Itulah salah satu tujuan kami mendirikan Kerajaan Banjar Virtual ini, didasari kekhawatiran akan hilangnya budaya Banjar apabila tidak dipelihara, web ini dipersembahkan sebagai dokumentasi digital bagi karya tulis dan adat hidup sehari-hari urang Banjar. Semoga web ini bisa menjadi salah satu alat pelestarian Budaya Banjar melengkapi cara-cara pelestarian budaya Banjar yang kawan-kawan lain sudah lakukan sebelumnya.

Balogo

Logo atau Lugu (logat Banjar) adalah nama alat permainan yang dipakai oleh anak-anak di daerah Kalimantan Selatan. Nama permainannya adalah Balogo (Balugu).  Dalam permainan balogo digunakan juga alat bantu kayu pemukul yang disebut penapak/cacampak.

Bahan yang digunakan untuk logo adalah tempurung kelapa yang diisi dengan aspal, dempul, atau alat perekat lainnya. Bentuk logo ada beberapa macam, yaitu logo kelayangan yang mirip bentuk layang-layang. Logo biuku atau bidawang yang mirip bentuk binatang bulus/kura-kura. Warna logo mengikuti warna serat tempurung kelapa yang digunakan.

Bahan untuk penapak adalah batang bambu yang tua. Penapak ini ada dua macam bentuknya, perbedaan terdapat pada ujung penapak, yaitu ujung bulat dan ujung segi empat. Penapak ini biasanya dibuat dengan lebar kurang lebih 2,5 cm, panjangnya kurang lebih 35 cm.

Cara membuat logo memerlukan sedikit keterampilan dalam membuat bentuk-bentuknya, serta kemampuan untuk memilih bahan dasar tempurung. Sebab logo nantinya akan dihantamkan dengan logo lawan sehingga pembuat logo harus memikirkan bagaimana agar logonya tahan hantaman. Tempurung kelapa yang dipilih biasa tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua, tempurung semacam ini agak mudah dibentuk serta memiliki kekuatan yang relatif stabil. Logo dibentuk dengan parang yang tajam atau kalau sekarang bisa menggunakan alat yang lebih modern seperti mesin gerinda. Bagian tempurung kelapa yang dijadikan logo bisa dari bagian samping atau ujung, tergantung besarnya logo. Para pemain akan berusaha memukul sekuat-kuatnya logo lawan itulah sebabnya logo harus dibuat sangat kuat.

bentuk logo

Logo ada yang satu lapis dan dua lapis. Untuk logo satu lapis supaya berat diisi dengan perekatnya saja sebab kalau tidak diisi akan melayang dan tidak bisa dikendalikan saat dimainkan. Logo dua lapis tempurungnya dibuat sama persis sehingga bentuknya hampir simetris saat direkatkan.

Permainan balogo bisa dimainkan satu lawan satu atau beregu dengan jumlah pemain sama. Dalam istilah permainannya ada yang dinamakan pemain “naik” itu artinya giliran memukul, dan pemain “pasang” itu artinya pemain yang menunggu logonya untuk dipukul.

Penentuan pemain pasang dan naik dilakukan dengan pengundian. Berikut beberapa aturan dalam permainan balogo:

  1. Panjang area permainan minimal 20 meter, dengan jarak dari area penapak dengan logo pasang pertama minimal 15 meter
  2. Pemain yang naik mendapat giliran memukul pertama sebanyak 2 x, dengan syarat pukulan pertama harus berhasil melewati garis minimal, apabila tidak sampai garis minimal maka pemain yang naik dinyatakan mati.
  3. Dalam setiap posisi logo yang dipasang, ada garis pasang, apabila logo pemain yang naik berhenti di area garis ini maka pemain yang naik dinyatakan mati dan tidak boleh memukul lagi.

area balogo

Skor permainan dihitung dengan banyaknya logo lawan yang berhasil dipukul dalam satu putaran permainan.

Apabila permainan beregu biasanya diatur strategi agar satu orang pemain naik berhasil memukul satu logo pemain pasang.

Demikian sekilas mengenai permainan balogo, apabila ada yang bisa menambahkan kami persilahkan untuk berbagi.

(sumber: Datu Mangku Adat Kesultanan Banjar H. Syarifuddin R)

Kada ulun biarakan budaya Banjar hilang di dunia !!

Badudus

Badudus mempunyai fungsi yang hampir sama dengan bapapai mandi-mandi pengantin, hanya saja badudus lebih rumit dalam persyaratannya. Dalam upacara badudus melibatkan keluarga kerajaan atau keturunan bangsawan yang akan dimandikan sehingga sering kali diiringi dengan upacara kebesaran kerajaan.

Perlengkapan dalam upacara badudus:
1. mayang pinang yang masih dalam upung (pembungkus mayang)
2. tempat air (mangkok, tajau/tempayan)
3. nyiur anum (kelapa muda) yang telah dipangkas bagian tangkai dan bawah, diletakkan dua buah di hadapan kedua mempelai
4. minyak likat baboreh (minyak olahan khas Banjar)
5. sasanggan (sejenis baskom dari kuningan)
6. tapih balipat (sarung yang ditumpuk dengan bentuk khusus untuk tempat duduk mempelai)
7. kasai kuning (bedak yang dicampur dengan kunyit dan air)
8. piduduk
9. cermin dan lilin

Tata cara upacara badudus:
1. kedua mempelai duduk di atas sasanggan yang dibalik dekat dengan piduduk
2. seluruh badan diolesi/dipercik-percikkan minyak likat baboreh
3. kemudian mulai dimandikan dengan air yang ada di dalam tajau yang sudah dimasukkan mayang pinang didalamnya oleh sesepuh yang ditugaskan untuk memandikan.
4. pada curahan air terakhir, dicurahkanlah “banyu bagantung” (air dari kelapa muda) kepada kedua mempelai
5. setelah selesai mandi, kedua mempelai didudukkan pada tapih balipat
6. telapak kaki kedua mempelai diberi coretan cacak burung (+) dengan kunyit dicampur kapur tujuannya agar tidak diganggu roh/makhluk halus
7. setelah itu masih di posisi duduk di atas tapih balipat, kedua mempelai dikelilingi lilin dan cermin sebanyak 3 kali
8.terakhir kedua mempelai diolesi kasai kuning dengan tujuan kedua mempelai terlihat kuning berseri, biasanya akan hilang dalam waktu tiga hari.

Dalam upacara badudus yang pernah dilakukan oleh Sultan Banjar H. Khairul Saleh, sumber air diambil dari 7 tempat bersejarah di Kalimantan Selatan.

Demikian sekilas upacara badudus untuk memandikan keluarga kerajaan dalam adat Banjar.

(sumber Datu Mangku Adat Kesultanan Banjar H. Syarifuddin R)

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !!

- – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - -
English Version
- – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - -

Badudus have function almost the same as bapapai – bathe for bride and groom, it’s just more complicated in its requirements. In badudus ceremony involve the royal family or royal line that will be bathe so often followed with royal pomp ceremony.

Equipment in badudus ceremony:
1. virgin flower of  betel nut tree still in “upung” (wrapper of virgin flower of  betel nut tree)
2. bowl and jar
3. coconut that have been trimmed at the stalk and bottom, put two pieces in front of the bride and the groom
4. minyak likat baboreh (sticky oli special made by Banjarese)
5. sasanggan (a type of brass basin)
6. tapih balipat (sarongs stacked with a special shape for seating the bride)
7. kasai kuning (powder mixed with water and turmeric)
8. piduduk (offering usually contain rice, sugar, coconut)
9. mirrors and candles

Badudus ceremonial procedures:
1. the bride and groom sitting on top of inverted sasanggan near the piduduk
2. their whole body oiled/splash with minyak likat baboreh
3. then began to be bathed with water which has been  mixed with virgin betel nut tree by the elders assigned to bathe
4. the last water, poured with “banyu bagantung” (water from coconut) to the bride and groom
5. after bathe, the bride and groom seated on tapih balipat
6. palm of their feet will be written with the symbol “cacak burung” (+) by turmeric mixed with lime, for protection from ghost/evil spirit
7.after that, still in position on top of tapih balipat, the bride and groom surrounded by mirrors and candles and around with it for 3 times.
8. last procedure is to oiled the bride and groom with kasai kuning for creating effect yellow radiant from their skin.

In badudus ceremony conducted for  Sultan Banjar H. Khairul Saleh, the source of water is taken from 7 historical sites in South Kalimantan.

(source Datu Mangku Adat Kesultanan Banjar H. Syarifuddin R)

Bamandi-mandi Pengantin (Bapapai)

Sebelum acara perkawinan adat Banjar dilaksanakan ada satu adat yang sering dilakukan oleh calon pengantin, yaitu upacara bamandi-mandi, yang dinamai bapapai atau badudus.

Bapapai atau badudus, memiliki kesamaan dalam fungsinya, hanya penempatannya yang berbeda. Badudus adalah istilah mandi-mandi yang dipakai oleh keluarga kerajaan atau keturunan bangsawan atau yang ada hubungannya dengan keluarga candi (tutus candi). Bapapai adalah istilah mandi-mandi yang dipakai oleh orang Banjar pada umumnya.

Kata “papai” dalam bahasa Indonesia berarti “percik”, dalam praktiknya bapapai seperti memercik-mercikkan air memakai mayang pinang kepada calon mempelai yang sedang dimandi-mandi.

Alat kelengkapan dalam bapapai ini antara lain,
1. tempat air (gayung/ember)
2. kembang (bunga-bunga harum)
3. mayang pinang
4. daun tulak yang dicampur air
5. piduduk yang berisi beras, gula, kelapa ada juga yang memuat cingkaruk (kue dari kelapa), nasi kuning, dan nasi lamak.

Orang yang bertugas memandikan atau memapai biasanya perempuan lanjut usianya yang merupakan tetua/sesepuh dalam keluarga. Ada juga satu tradisi untuk sumber air dalam bapapai diambil dari “ulak” atau pusaran air pada sungai besar, karena ada kepercayaan bahwa ada naga yang ditinggal diulakan tersebut sehingga air ulakan dimaksudkan supaya jangan kena pengaruh buruk dari naga itu.

Tata cara dalam bapapai menurut adat kawin:
1. calon pengantin pria diarak ke tempat calon pengantin wanita pada malam menjelang hari perkawinan
2. pengantin didudukkan berdampingan di serambi rumah atau di bagian belakang rumah
3. kemudian dimandikan dengan cara memercikkan air papaian oleh sesepuh wanita
4. jumlah memandikan selalu ganjil ada 3, 5, atau 7 secara bergantian.
5. setelah habis mandi, pengantin pria dan wanita disisiri, diminyaki, dan sebagainya
6. kemudian didudukkan berdampingan (batatai) dikelilingi oleh cermin dan lilin.
7. cermin dan lilin dikelilingkan kepada mempelai sebanyak 3 kali oleh wanita yang memandikan tadi.
8. setelah selesai calon pengantin pria kembali ke rumahnya

Demikian sekilas mengenai adat pengantin mandi-mandi atau bapapai,

(sumber Datu Mangku Adat Kesultanan Banjar H. Syarifuddin R)

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !!

- – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – -

English Version

- – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – -

Before the wedding ceremony of  traditional Banjar conducted, there is a custom that is ofted done by the bride and groom. The ceremony is a bathe called bapapai or badudus.

Bapapai or Badudus, have similarities in function, just different placement. Badudus is a term used to bathe for descendants of royal family or nobility or person who connected with Candi Family/tutus candi (kingdom before the Kesultanan Banjar). Bapapai is a term to bathe for the Banjarese in general.

The word “papai” in English means “splash”, in practice bapapai such as splashing water wearing virgin cob Betel nut tree (areca catechu) to the bride and groom being bathed.

The equipment in this bapapai include,
1. dipper/bucket for water
2. flowers
3. virgin cob Betel nut tree
4. carricature plant/carmantine leaves mixed with water
5. piduduk (offerings) containing rice, sugar, coconut, some people also put in cingkaruk (cake from coconut), nasi kuning (rice cooked with turmeric as main seasoning), nasi lemak (rice cooked with coconut milk)

The person in charge of bathing or memapai usually women who is elder/elders in family. There is also a tradition for the water source of bapapai taken from “ulak” or large whirpool in the river, because there is a belief that there is a dragon who lived in the whirpool, so taken water from dragon whirpool to avoid negative effects from the dragon.

Bapapai procedures according to Banjar custom of wedding:
1. The groom paraded to the bride house on the eve before wedding day
2. The bride and the groom seated side by side in the porch or in the back of the house
3. then bathed with splashing of the papaian water by elder women
4. number person in charge of bathing are always odd (3,5, or 7 elder women)
5. after bathe, the bride and groom combed, oiled, and so on
6. then seated side by side (batatai) surrounded by mirrors and candles
7. mirrors and candles around the bride as much as 3 times by women who bathe earlier.
8. after ceremony finish, the groom returned to his house.

This is a glimpse of the Banjarese traditional bridal bath or bapapai.
(source Datu Mangku Adat Kesultanan Banjar H. Syarifuddin R)

I will never allow the Banjarese culture disappeared from the world !!

Tidak Perlu Ada Huruf ‘k’ Itu

Tidak perlu huruf ‘k’ pada akhiran beberapa kata bahasa Banjar

ini adalah pendapat ulun pribadi, tidak ada dasar teorinya ataupun referensi kamus bahasa dari para pakar bahasa Banjar, atau sudah pernah ada yang membahas ini sebelumnya.

menyikapi bahasa tulis dari urang Banjar yang ada di beberapa forum internet, ulun pribadi sering merasa geli apabila melihat bahasa tulis ini.

contohnya adalah ditulisnya huruf ‘k’ pada akhir beberapa kata bahasa Banjar, misal:

kadak = kada
kawak = kawa
kaluak = kalua
pinanduk = pinandu
bagawik = bagawi

kita urang Banjar bukan seperti beberapa suku di Indonesia yang tidak bisa mengucapkan huruf ‘k’ pada akhiran kata. misal suku Jawa mengucapkan “bak mandi” akan menjadi “ba’ mandi”

kita urang Banjar mengucapkan “bak mandi” juga tetap “bak mandi”, sehingga disinilah letak kelucuan bagi saya pribadi apabila membaca kata seperti “kadak, kawak, dan sejenisnya” sebab ulun akan tetap membacanya sebagai “kadak” atau “kawak” dan di daerah Banjarmasin sini seingat umur ulun belum pernah mendengar kawan sekampung berbahasa lisan seperti itu.

kalo sekilas terdengar saat urang Banjar mengucapkan “kada” seperti “kada’” mungkin itu sebabnya orang beranggapan bahwa apabila dijadikan bahasa tulis menjadi “kadak”. Tapi dalam pikiran ulun tidak pernah terpikirkan adanya huruf “k” atau tanda ” ‘ ” itu dalam penulisannya.

sebabnya ya itu tadi, kita urang Banjar lidahnya mampu mengucapkan huruf ‘k’ pada akhir kata sehingga apabila ada huruf itu maka penyebutannya pun akan menjadi seperti itu.

sekarang kita uji konsistensi tulisan kata dalam bahasa Banjar apabila kita tetap menuliskan huruf ‘k’ ini pada beberapa kata, contoh :

‘kujuk-kujuk’ apakah kita akan menyebutkannya menjadi kuju-kuju
‘juluk’ apakah kita akan akan menyebutkannya menjadi julu
‘santuk’ apakah kita akan menyebutkannya menjadi santu
‘rancak’ apakah kita akan menyebutkannya menjadi ranca
‘dangsanak’ apakah kita akan menyebutkannya menjadi dangsana
‘handak’ apakah kita akan menyebutkannya menjadi handa

dan masih banyak contoh lainnya, sehingga dirasa tidak konsisten apabila kata “kada” atau “kawa” dituliskan “kadak” atau “kawak” dibaca menjadi “kada” atau “kawa”.

jadi menurut ulun dalam kata bahasa Banjar apa yang ditulis sama dengan yang diucapkan.

demikian sekilas pendapat ulun untuk gambaran bagi kawan-kawan yang memakai huruf ‘k’ itu dalam penulisan bahasa Banjar semoga bisa ikut merenunginya.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !!

STOP Sebarkan MP3 Lagu Banjar di Internet !

Berapa penghasilan pencipta/penyanyi lagu Banjar dari lagunya?

Berapa kali pencipta/penyanyi lagu Banjar diminta konser dalam satu bulan?

Artis negeri ini seperti Nidji, Ahmad Dhani, Mahadewi, Agnes, dan kawan-kawan seprofesi,  mungkin gerah dengan terjadinya pembajakan atas lagu mereka. Mereka sering bilang pembajakan itu mengurangi penghasilan mereka. Anda baca sekali lagi kalimat terakhir dan cari kata kuncinya.

Mereka sering bilang pembajakan itu MENGURANGI PENGHASILAN mereka. Nah, Anda baca, pembajakan hanya MENGURANGI penghasilan mereka, artinya mereka masih mendapatkan penghasilan yang berlimpah dari konser, wawancara, bintang tamu berbagai macam acara, serta  menjadi bintang iklan, meskipun seiring dengan itu lagu mereka dibajak dan disebarkan lewat media internet.

Sekarang kembali ke pencipta/penyanyi lagu Banjar, apakah penghasilan mereka sama seperti artis-artis nasional? Apakah kalau kita sebarkan lagu mereka di internet mereka tetap dapat penghasilan dari konser dan bintang tamu acara serta jadi bintang iklan?

Sepertinya penghargaan materi yang mereka dapat hanya berhenti di kaset/VCD mereka. Bahkan John Tralala akhir-akhir ini mengemukakan alasan beliau menunda mengeluarkan album karena maraknya pembajakan lagunya. John Tralala mungkin masih aktif berkonser sana kemari, tetapi bagaimana dengan pencipta lagu Banjar lainnya?

Sudah jarang terdengar publikasi Ayahanda Anang Ardiansyah menggelar konser, yang terdengar hanya lagu beliau yang tersebar kemana-mana dan sekali lagi kita tidak tahu apakah ada penghargaan materi untuk sebaran lagu tersebut.

Kita bisa kemukakan seribu alasan demi pelestarian Lagu Banjar, tetapi apakah itu cara kita menghargai hasil karya Urang Banjar? Kita putar lagu Banjar dan berdendang tetapi lagu itu kita dapat gratis di internet dari Urang Banjar sendiri yang menguploadnya atau kita copy dari flashdisk kawan-kawan.

Sudah saatnya kita mulai mengatur kembali sistem pelestarian lagu Banjar dengan menggerakkan roda industri lagu Banjar. Salah satu alasan kita mencari lagu Banjar di internet karena kita tidak menemukan tempat orang berjualan kaset/CD/VCD lagu Banjar. Tetapi seandainya kita tahu tempat orang berjualan kaset/CD/VCD original lagu Banjar apakah kita akan datang dan membeli kesana?

Mari kita gerakkan sistem roda industri lagu Banjar, terus terang saya pun belum tahu cara yang tepat, karena itu saran dan pikiran sesama Urang Banjar sangat diperlukan, mari berbagi supaya pencipta lagu Banjar bisa terus berkarya.

Setidaknya untuk saat ini mari kita STOP Sebarkan MP3 (GRATIS) Lagu Banjar di Internet !

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Jujuran

Dalam adat kawin Banjar ada satu syarat yang harus dipenuhi oleh calon pengantin pria, yaitu Jujuran. Biasanya Jujuran ini berbentuk uang tunai. Zaman dahulu Jujuran adalah f. 4,- (empat rupiah atau empat Gulden) sebagai syarat sah nikah mengikut agama Islam.

Jujuran bisa diminta kembali apabila dalam hal perkawinan terjadi kegagalan (sang istri belum atau tidak mau dicampuri suami) sehingga Jujuran harus dikembalikan sepenuhnya. Apabila pihak pria mencerai istrinya (kegagalan dalam perkawinan), Jujuran tersebut dianggap hilang

Mahalnya Jujuran bagi seorang gadis ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain:
- kemampuan orang tua si gadis di bidang ekonomi/orang tua si gadis orang terpandang
- kecantikan si gadis
- karena memang dikehendaki orang tua si gadis demi ongkos perkawinan dan bekal hidup bagi mempelai

Dalam kebiasaan masyarakat Banjar, Jujuran ini ikut menentukan berhasil atau tidaknya acara perkawinan nantinya. Pernah ditemui cerita batalnya perkawinan akibat pihak pria tidak bisa memenuhi permintaan besarnya Jujuran atau terjadi kesalahpahaman dengan besarnya Jujuran. Di masyarakat umum jumlah Jujuran bisa juga diambil patokan dari besarnya Jujuran kebanyakan orang di daerah tersebut.

Orang luar daerah biasanya salah paham dengan konsep Jujuran Urang Banjar, sehingga sering disebut seperti ‘jual anak’. Kebanyakan uang Jujuran digunakan untuk meriahnya acara perkawinan dengan berbagai adat yang menyertainya serta untuk membeli perlengkapan rumah tangga bagi mempelai di kehidupan yang akan dijalani, selain faktor yang telah disebutkan diatas.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Belajar Bahasa Banjar – 4 -

Kita belajar lagi menghapal kosakata Bahasa Banjar yang mungkin akan Anda dengar sehari-hari.

koler/kulir = malas
kadada/kedada = tidak ada
sarik/sangit = marah
awak = badan
lamak = gemuk
garing = sakit
catuk = pukul
ranjah = tabrak
bukah = lari
bungas/langkar = cantik/tampan
lawan = dengan
umpat = ikut
pandir/pender = bicara
padah = beri tahu
pacul = lepas/copot

demikian sekilas mengenai kosakata Bahasa Banjar yang biasa terdengar dalam perbincangan sehari-hari, masih banyak lagi yang bisa kita bahas.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Syair Sejarah Negara Dipa – 7 -

7

Begitu riang gembiranya seluruh armada setelah di kejauhan mereka menemukan daratan luas membentang. Seluruh nahkoda dan hamba sahaya serta keluarga Empu Jatmika kegirangan mengingat hasil perjuangan sudah di depan mata. Semua layar diturunkan, Wiramartas, Hulu Balang Penganan Pengiwa bersiap siaga. Empu Jatmika bersiap turun ke darat melaksanakan amanat ayahanda.
- – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - -

Sebagaimana amanat ayahanda
Ketika hendak meninggal dunia
Empu Jatmika terus bekerja
Menggali tanah di malam buta

Tanah diambil sekepal lalu digenggamnya
Ternyata sangat dingin rasanya
Berbau sengal jelas tak ada harumnya
Alamat negeri huru-hara adanya

Amanat ayahanda kiranya nyata
Tanah digali sangat dingin rasanya
Berbau busuk alamat huru-hara
Sedih hatinya Empu Jatmika
– – - – - – - – - – - – — – - — – - – - – - – — – - -

Meskipun sudah menemukan daratan ternyata perjalanan belum menemukan tujuan, maksud hati Empu Jatmika hendak berhenti tetapi teringat amanat ayahanda agar terus mencari supaya negeri yang diidamkan bisa ditemukan. Dengan sedih dan berat hati dikumpulkan kembali para perwira, diperintahkan agar menyiapkan kembali armada, perjalanan akan diteruskan sampai ditemukan tanah yang dijanjikan.

(bersambung)

Musik Panting

SEJARAH SINGKAT KESENIAN MUSIK PANTING MENURUT AW. SYARBAINI DI DESA BARIKIN KEC. HARUYAN KAB. HST

Tulisan kiriman : Maulidi Novianri B. Wanyi

1. A.W. Syarbaini pada tahun 1969 mengenal dan mempelajari kesenian Musik Tradisional Bajapin
2. Pada tahun 1973 membentuk kasenian tradisional bajapin tersebut dengan alat yang sangat sederhana yang terdiri :
a. Panting
b. Babun
c. Gong
3. Setelah itu pada tahun 1976 musik bajapin ditampilkan dalam bentuk sajian musik, yakni musiknya saja tanpa mengiringi tarian japin dengan membawakan lagu-lagu melayu banjar pahuluan.
4. Pada tanggal 15 November 1977 khususnya di desa Barikin musik bajapin tersebut kembali ditampilkan dalam bentuk acara resipsi perkawinan dan pada waktu itulah diberi nama Musik Panting, dalam acara tersebut telah hadir beberapa orang tokoh seniman Kalimantan Selatan yang ikut menyaksikan pagelaran musik panting tersebut, antara lain :
a.Yustan Azidin
b. Marsudi, BA
c. H. Anang Ardiansyah
d. Drs. H. Bahtiar Sanderta

Menurut Yustan Azidin karena kesenian ini alat utamanya adalah panting maka dari itulah musik tersebut alangkah baiknya diberi nama ” Musik Panting ”
5. Pada tahun 1977 Musik Panting khusus membawa lagu-lagu melayu banjar pahuluan yang ditampilkan pada siang hari dengan irma slow, sedangkan syair lagunya bernafaskan nasehat.
6. Pada tahun 1978 telah diciptakan lagu dan syair dengan diberi nama Musik Panting.
7. Pada tahun 1979 alat Musik Panting diperkaya dengan beberapa alat musik tambahan yaitu :
a. Panting ………………………………. 3 buah
b. Talinting…………………………….. 1 buah
c. Gong………………………………….. 2 buah
d. Giring-giring……………………….. 1 set
e. Suling…………………………………. 1 buah
f. Biola…………………………………… 1 buah
g. Kulimpat……………………………… 5 buah ( alat ini berasal dari musik dayak )
8. Pada tahun 1980 Musik Panting diperkaya dengan memakai Sound Sistem
9. Pada tahun 1981 disetiap Kabupaten sudah punya kesenian Musik Panting
10. Pada tahun 1982 sampai dengan 1985 Musik Panting telah berkembang di masyarakat
11. Pada tahun 1985 Musik Panting disebarkan ke sekolah-sekolah dengan melalui kantor Kanwil Depdikbud Prop. Kalsel.

KETERANGAN
Bentuk Panting dan Ukiran :

~*~ Ukiran kepala :
- Karuang Bulik
- Simbangan Laut
- Naga Salimburan
- Putri Bungsu
- Putri Kurung
- dll.
~*~ Bentuk Badan
- Mayang Bungkus
- Mayang Bunting
- Mayang Maurai

Mengenai kapan lahirnya musik “Panting”, sampai sekarang belum didapatkan data tertulis. Tapi, menurut tuturan lisan yang berkembang di pedesaan dan kampung-kampung di Kalimantan Selatan, musik “Panting” sudah ada sebelum zaman penjajahan. Atau lebih kurang pada abad ke-18. Pada masa itu, musik “Panting” digunakan untuk mengiringi tarian Japen dan Gandut.

Dalam periode tersebut, musik “Panting” diiringi dengan istrumen lain seperti babun, gong, suling, dan rebab. Tapi setelah biola masuk ke Kerajaan Banjar, maka kedudukan rebab digantikan oleh biola.

Di masa awal dan tahap perkembangannya, “Panting” hanya memiliki tiga buah tali.atau senar. Dimana masing-masing senar punya fungsi tersendiri. Tali pertama disebut pangalik. Yaitu tali yang dibunyikan untuk penyisip nyanyian atau melodi.

Tali kedua, disebut panggundah atau pangguda yang digunakan sebagai penyusun lagu atau paningkah. Sedang tali ketiga disebut agur yang berfungsi sebagai bass.

Tali “Panting” pada masa lalu dibuat dari haduk hanau (ijuk), serat nenas, serat kulit kayu bikat, benang mesin, atau benang sinali.

Tapi sekarang, karena lebih mudah didapatkan, ditambah lagi dengan bunyinya yang jauh lebih merdu, benang nilon tampak lebih banyak digunakan. Atau, ada pula yang menggunakan tali kawat dengan empat bentangan pada badan “Panting”.

Kemunduran musik “Panting” terjadi pada jaman penjajahan Jepang. Waktu itu, musik “Panting” jarang sekali dipergelarkan. Wajar saja, karena pada waktu itu, setiap orang harus berjuang keras untuk mempertahankan hidup. Termasuk puluhan tahun setelah Jepang meninggalkan Indonesia.

Tahun 1984 merupakan tahun yang sangat menentukan bagi kehidupan musik “Panting”. Ketika itu, para seniman melakukan penelitian terhadap musik ini di daerah Kabupaten Tapin.

Dari hasil penelitian, dinyatakan bahwa musik “Panting” masih layak untuk diangkat kembali ke permukaan. Segala sesuatu pun dipersiapkan. Lagu-lagunya direnovasi dan diganti dengan lagu-lagu Banjar yang sudah diaransement ulang sedemikian rupa.

Setelah dibenahi secukupnya dengan tidak meninggalkan esensi sebagai suatu musik tradisi, di tahun 1984 itu juga, musik “Panting” diujicobakan ke festival musik daerah se-Indonesia.

Hasilnya sangat memuaskan sekaligus mengejutkan. Musik pantng berhasil menduduki peringkat 10 besar musik-musik Nusantara. Sejak saat itu, pembinaan terus ditingkatkan. Hingga pada akhirnya, lahirlah grup-grup musik “Panting” di seluruh penjuru Kalimantan Selatan seperti sekarang ini. Mari terus kita kembangkan dan lestarikan kesenian khas daerah kita.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Seputar Perang Banjar : Harga Kepala Para Pejuang

Sejarah Perang Banjar tidak banyak yang tahu meskipun oleh Urang Banjar sendiri. Ini disebabkan buku-buku sejarah pelajaran sekolah kurikulumnya lebih banyak membahas perang kemerdekaan yang terjadi di daerah lain. Sehingga generasi muda Urang Banjar pun lebih mengenal sejarah perang daerah lain daripada kejadian perang yang pernah terjadi di daerah sendiri.

Berikut ulun coba tuliskan kisah seputar Perang Banjar yang diantaranya adalah pengumuman dari pemerintahan penjajah atas hadiah apabila menyerahkan para pejuang Banjar.

Staat Der Opstandelingen Op Wien Premien Of Hoofdgelden Zijn Gesteld (Daftar Nama Pemberontak Yang Dikenai Premi atau Harga Kepala) :

1. Demang Lehman                   harga kepala     f. 2.000,-
2. Hadjie Boejasin                     harga kepala     f. 1.000,-
3. Mohammad Joesoep          harga kepala     f.  250,-
4. Pemboekal Doeraop            harga kepala     f.  250,-
5. Kiayi Lanlang                         harga kepala     f.  250,-
6. Pemboekal Timang              harga kepala     f.  250,-
7. Hadjie Mataip                        harga kepala     f.  250,-
8. Pangeran Moeda                   harga kepala     f.  500,-
9. Raksa Pattie                            harga kepala     f.  250,-
10. Pemboekal Notto               harga kepala     f.  500,-
11. Antasari (Pangeran)          harga kepala     f. 10.000,-
12. Mad Said (Goesti)               harga kepala     f.   300,-
13. Pemboekal Intan                harga kepala     f.   100,-
14. Hidjaejat (Hidayat)            harga kepala    f.  10.000,-
15. Raksa Yoeda                         harga kepala    f.     150,-
16. Temboenoeroe                    harga kepala    f.     150,-
17. Oebah                                      harga kepala    f.     150,-
18. Abdoel Kasjim                     harga kepala    f.     250,-
19. Abdoel Ganie                       harga kepala    f.     250,-
20. Doerachman                        harga kepala    f.     250,-
21. Aminoellah                           harga kepala    f.  2.000,-
22. Kerta Negara                        harga kepala    f.     500,-

Demikian sejarah seputar Perang Banjar, akan ulun coba tuliskan cerita mengenai seputar Perang Banjar pada kesempatan berikutnya. Semoga para pejuang diberi rahmat oleh Allah SWT. Amin.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang Di Dunia

Kada Handak Jadi Urang Banjar…

“Aku kan aslinya bukan orang banjar juga…”

Sedih banar hati ku mandangar ikam bapadah kaya itu..

(14 jam sebelumnya…)

Himung rasa hatiku, mandangar ikam babulik ka banua.
Kawal lawas sarantang saruntung
tumatan TK sampai SMA

Lakas ku kajut sapida mutur
manyinggahi rumah mama ikam, wadah kita bakumpulan bahari
tumatan TK sampai SMA

“Balum datang, lagi di jalan menuju ke sini” jar mama ikam
Sabar ai ku mahadang, sambil malihati pohon nang kita naiki bahari
tumatan TK sampai SMA

Kada saapa ikam datang, bah gagah banar, kacamata hirang, salawar livis
kada hilang senyum ikam bahari, kurihing-kurihing tatap kada baubah
tumatan TK sampai SMA

“apa kabar bro? gimana kabar kamu?” jar ikam batakun
“baik haja” jar ku. “kayapa di Jakarta, nyaman haja kah badiam disana” takunku pulang
“wah, enak banget bro, semua fasilitas ada gitu loh” jar ikam manyahut

kada tarasa 30 menit kita bapandiran, tapi aku hanyar sadar
ada nang hilang dari diri ikam, ada nang hilang dari kawalku bahari
tumatan TK sampai SMA

“ikam ni dari tadi pandir bahasa gaul haja, kalawasan badiam di Jakarta, sampai kada ingat lagi Bahasa Banjar”
ujar ku manggayai haja maksudnya
“ngga ingat lagi bahasa banjar, aku kan aslinya bukan orang banjar juga” ujar ikam manyahut lakas.

Sedih banar hatiku mandangar ikam bapadah kaya itu..

(malam ini…)

Rasa sedih, taganang pandiran ikam siang tadi..kada kawa guring tabawa dalam hati
kaingatan kawan bahari
tumatan TK sampai SMA

Kada ingatkah ikam?  kita bahari main lebok wan isutan jarat,
baajakan tukup wan baasinan ikam jagaunya,
katuju manuntun Mamanda di muka Taman Budaya
tatawaan malihat Wayang Gung muha pamainnya basasingut karas
naik kelotok ka Muara Kuin tuju ka Pulau Kambang
banaik nyiur, habis latihan Pramuka

Kada ingatkah ikam? ikam bahari katuju banar pura-pura bapandir ‘r’ batagar
mahulut acil sakolahan bapandir balolocoan
Kada ingatkah ikam? diantara kakawalan bahari ikam nang paling harat Bahasa Bakumpai
karna padatuan ikam matan Marabahan, abah ikam asli sana, uma ikam asli Barabai
tapi ikam,  umpat lahir di Jakarta
habis itu dibawa bulik ka Banjar, bagana disini
tumatan TK sampai SMA

Kaingatan pulang jar ikam siang tadi

“aku kan aslinya bukan orang banjar  juga”

sedih banar hatiku mandangar ikam bapadah kaya itu

tapi…
lamun ikam…
Kada handak jadi Urang Banjar
biar ai…

ya sudahlah..kada kawa kupaksa…

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Belajar Bahasa Banjar – 3 -

Seperti pelajaran dalam bahasa Indonesia, Bahasa Banjar (BB) pun memiliki beberapa aturan-aturan dalam pembentukan sebuah kata atau kalimat. Pembentukan kata dalam kata benda (N) misalnya berupa pembentukan dari proses penggabungan awalan + Kata Dasar (KD) + akhiran.

Contoh :

awalan = sa (BBK) /se (BHS)
KD(N) = piring
akhiran = an
Rumus :
awalan + KD(N) + akhiran
sa + piring + an = sapiringan = seluruh piring (menunjukkan jumlah/volume)

Contoh kalimat:
Inya koler makan, sudah sejam kada habis sapiringan
Inya = dia
koler = malas
makan = makan
sudah = sudah
sejam = satu jam
kada = tidak
habis = habis
sapiringan = seluruh piring

Kata lainnya :
sarumahan = seluruh rumah
sabanuaan = seluruh (yang ada) di banua
sakamaran = seluruh (isi)  kamar
salamarian = seluruh (isi)  lemari
samotoran = seluruh (isi) mobil

*banua = istilah yang dipakai Urang Banjar untuk menunjukkan tanah kelahiran

hati-hati, ingatlah rumus : [awalan (sa/se) + KD (N) + akhiran] untuk menunjukkan jumlah/volume

kalau tidak pakai rumus ini artinya akan beda, misal:
sarumah = satu (sama-sama dalam) rumah
sakamar = satu (sama-sama dalam) kamar

Nah, jadi beda kan artinya?

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Cacak Burung

Dalam adat Banjar terdapat beberapa simbol-simbol yang berhubungan dengan alam kepercayaan atau upacara adat. Penggunaan simbol adat Banjar bisa berbentuk ukiran atau dilukiskan. Yang sangat umum dipakai oleh masyarakat setempat adalah simbol “CACAK  BURUNG”

Wujud dari simbol Cacak Burung ini sangat sederhana. Satu garis horizontal bersinggungan dengan satu garis vertikal, sehingga persis seperti tanda (+) dalam rumus matematika.

Bagian kiri dan kanan sama panjang demikian pula dengan bagian atas dan bawah. Karena keempat bagian hampir sama panjangnya dalam pelukisan atau ukiran maka tidak seperti tanda salib.

Simbol ini sering dipakai untuk  menolak roh jahat, menolak penyakit, menolak bala dan sebagainya.  Tanda ini dipercayai bisa memburu penyakit dan roh jahat untuk segera pergi.

Simbol ini bisa mudah terlihat di rumah Urang Banjar yang masih mengamalkannya, terutama apabila ada acara-acara besar. Misalnya untuk menangkal penyakit  supaya jangan menghinggapi makanan hidangan maka di panci-panci makanan dicoret dengan simbol ini.

Coretan biasanya menggunakan kapur atau janar/kunyit dicampur diparut dengan kapur.

Bisa juga orang yang sakit dada atau batuk maka di tenggorokan dan dadanya dicoret Cacak Burung. Simbol ini sering dipakai oleh para tetua Urang Banjar  dalam menyembuhkan ‘kapidaraan’ (penyakit karena kualat disebabkan berbagai hal gaib). Begitu juga agar rumah tidak diganggu roh jahat di tiang-tiangnya dicoret dengan Cacak Burung, dan masih banyak penggunaan lainnya.

Dari nama simbol ini kemungkinan berhubungan dengan kepercayaan mengenai dunia bawah dan dunia atas. Simbol Cacak diwakili garis horizontal merupakan lambang dunia bawah (kesatuan dari pohon hayat menurut kepercayaan Dayak) sedangkan simbol burung diwakili garis vertikal merupakan lambang dunia atas.

Garis horizontal dalam simbol Banjar diartikan sifat menangkis segala serangan (perisai) dan garis vertikal dalam simbol Banjar diartikan sifat melawan/menyerang segala pengganggu. Sehingga filsafat yang dimiliki simbol ini adalah alat yang mampu menangkis segala serangan dan gangguan sekaligus menyerang dan melawan balik musuh/roh jahat yang datang.

Nah, hebat sekali filsafat simbol yang dimiliki Urang Banjar. Rugi kita kalau sampai kehilangan arti dari lambang ini. Makna  MENANGKIS  KEMUDIAN  MELAWAN  bisa kita terapkan dalam menghadapi masalah yang datang dalam kehidupan sehari-hari agar Urang Banjar jangan gampang menyerah. Cangkal Bausaha, Dalas Balangsar Dada !

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Syair Sejarah Negara Dipa – 6 –

6
- – - – - – - – - – - – - – - –
Tidak berapa lama setelah terkumpul semua armada dan penumpangnya, Wiramartas Kepala Nahkoda dengan suara lantang dan tegas memerintahkan melepas tali ikatan agar seluruh armada segera berlayar bertolak dari dermaga. Bunyi angin dan pepohonan seperti bernyanyi dengan sedih menyanyikan lagu perpisahan kepada mereka. Wiramartas berlari ke ujung haluan, menutup mata membuka telapak tangan, merasakan angin menerpa badan. “ini kiranya yang aku tunggu, angin dari selatan, berarti akan membawa kita ke utara” pikir Wiramartas. Tetapi ke utara yang mana gerangan, tidak ada yang mengetahuinya.
- – - – - – - – - – - – - – - -
Armada bertolak layar dikembangkan
Angin bertiup dari selatan
Negeri Keling sudah ditinggalkan
Tak tampak lagi dalam penglihatan

Kapal besar Si Prabayaksa
Kapal pelopor sekalian armada
Tampak anggun lagi perkasa
Melaju di lautan dengan cepatnya

Armada beriringan dengan gagahnya
Lautan lepas tujuannya
Ombak melanda silih berganti
Namun nahoda tetap pegang kendali

Empu Mandastana yang muda belia
Lambung Mangkurat dengan neneknya Sitira
Duduk berpikir-pikir di dalam dada
Kemanakah gerangan tujuan kita
- – - – - – - – - – - – - – - – -
Iring-iringan armada terus melaju berlayar diantar angin, berpasrah kepada amanat Ayahanda. Tak terasa malam berganti siang tapi armada kapal belum juga berhenti. Laut yang luas jadi padang permainan, meskipun waktu perjalanan yang lama tidak menyurutkan semangat mereka, kadang-kadang kapal beradu cepat dan mereka tertawa-tawa bercanda riang. Wiramartas tetap waspada, berjaga di haluan kapal mengamati angin dan suasana laut, ternampaklah ia kain layar yang tertiup angin kadang ke kiri kadang ke kanan. “nampaknya perjalanan segera menemukan tujuan, angin berubah-ubah cepat tanda dekat daratan” pikir Wiramartas.
- – - – - – - – - – - – - – - – - -
Di suatu pagi yang amat cerah
Di hari baik di bulan indah
Matahari pun timbul baru sepenggalah
Lautan tenang sangatlah indah

Seorang nahoda penjaga haluan
Tiba-tiba berteriak memberitahukan
Itu daratan hijau membentang kelihatan
Hatinya gembira tiada tertahankan

(bersambung)

Batabus Purih

Ada satu adat perkawinan Banjar yang sekarang mungkin tidak terdengar lagi orang mengamalkannya yaitu Batabus Purih. Adat ini adalah salah satu syarat perkawinan dalam Budaya Banjar, Batabus Purih terjadi apabila pria yang bukan keturunan bangsawan ingin menikahi wanita yang keturunan bangsawan. Pria tersebut harus ‘manabus purih’ yang dimaknakan sebagai membayar ganti rugi akibat hilangnya gelar bangsawan bagi turunan mereka seterusnya. Hal ini juga dimaksudkan untuk menghilangkan akibat buruk (katulahan) yang akan timbul bagi pria itu karena telah berani kawin dengan wanita turunan bangsawan.

Wujud pembayaran atau tebusan tersebut biasanya berupa uang atau barang yang diserahkan bersama-sama mas kawin yang disepakati. Besarnya tebusan biasanya ditentukan bersamaan dengan waktu penentuan besarnya mas kawin. Tebusan yang paling mahal kadang-kadang mencapai setengahnya dari nilai mas kawin. Jika diganti barang umumnya berupa kain baju, kain panjang, selendang, dan seluruh perlengkapan pakaian.

Zaman sekarang dikarenakan gelar kebangsawanan tidak seketat dahulu sehingga jarang disebutkan adanya adat Batabus Purih ini pada saat akan digelarnya perkawinan bagi wanita keturunan bangsawan dengan pria bukan bangsawan. Disamping itu adat ini juga menunjukkan Urang Banjar yang menghargai status seluruh umat manusia karena boleh saja wanita bangsawan menikah dengan yang bukan bangsawan asal ditebus dengan adat yang ada. Demikian berbagi pengetahuan mengenai salah satu adat kawin dalam masyarakat Banjar supaya jadi pengetahuan bersama.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

“Nasi Sabigi, Satahun Hanyar Ada”

Peribahasa Banjar :
“Nasi Sabigi, Satahun Hanyar Ada”

Nasi = nasi
Sabigi = satu biji
Satahun = satu tahun
Hanyar = baru
Ada = ada

Arti bebas dalam bahasa Indonesia :
Satu biji nasi, satu tahun baru ada.

logika :
zaman dahulu pola penanaman padi di wilayah Kerajaan Banjar memakai sistem panen 1 x dalam satu tahun berdasarkan sawah tadah hujan, jadi siklus pengadaan beras/nasi baru ada dalam satu tahun sekali.

maksud peribahasa :
tidak mudah mendapatkan satu biji nasi, harus menunggu satu tahun sekali.

Adanya peribahasa ini menunjukkan bukti kebijaksanaan Urang Banjar dalam memberikan nasihat, terutama kepada anak-anak yang sedang makan. Sebab anak-anak sering bermain-main dengan makanan sehingga terkesan membuang-buang makanan. Peribahasa ini juga dimaksudkan agar Urang Banjar menghargai/mensyukuri sesuatu yang dihasilkan dengan susah payah. Menghargai waktu dan proses untuk meraih cita-cita.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Bukti Sifat Keras Urang Banjar

Tulisan ini diilhami dari sebuah laporan dari orang-orang VOC yang bertugas di Kerajaan Banjar kepada Residen de Lilc.
Pada masa itu adalah masa pemerintahan Sultan Mohammad Aliuddin Aminullah sekitar tahun 1758 – 1761, meskipun pemerintahannya hanya berlangsung selama 3 tahun tetapi Sultan Aliuddin Aminullah mempunyai sikap politik yang sangat keras kepada VOC, berbagai macam peraturan dagang selalu dibuat sehingga lebih menguntungkan pihak Kerajaan Banjar. Pemimpin-pemimpin VOC yang akan berhubungan dengan Sultan Aliuddin Aminullah harus sangat berhati-hati supaya Sultan tidak tersinggung demi lancarnya arus perdagangan mereka, karena menurut pengakuan mereka Urang Banjar sangat keras wataknya apabila tersinggung.

Hal ini dibuktikan dengan sebuah laporan VOC  kepada Residen de Lilc yang berbunyi :

Residen jangan mengira bahwa di Banjar ini sama halnya dengan di Banten atau Jawa. Orang Banten atau Jawa walaupun dia dipukul kompeni dengan cambuk di kepalanya, sekali-kali tidak berani mengatakan bahwa pukulan itu sakit, tetapi orang Banjar mendengar kata-kata yang keras saja sudah marah dan bila sampai terjadi begitu maka seluruh Banjar akan merupakan buah-buahan yang banyak pada satu tangkai

Rasa cagat bulu awak membaca laporan ini. Hal ini kadang masih terasa di kehidupan Urang Banjar sehari-hari, kita sering baca di koran bagaimana suatu peristiwa pembunuhan di daerah Kalimantan Selatan terjadi hanya karena gara-gara “bacangangan” mata. Orang Banjar yang dipandang matanya merasa tidak terima dan tersinggung.

Itu adalah hal yang negatif, sekarang bagaimana caranya agar kita bisa memanfaatkan sifat keras asli milik Urang Banjar ini menjadi sebuah potensi yang akan mengangkat nama Urang Banjar di mata orang luar. Misalnya Urang Banjar yang saat ini masih banyak menganggur belum ada usaha/kerja, mari kita bangkitkan sifat keras ini menjadi sifat ‘cangkal bausaha’ jangan mau berdiam diri, tapi segera ciptakan kesempatan dan waktu untuk meraih peluang sehingga Urang Banjar yang dahulu ditakuti VOC kembali muncul demi kemajuan banua.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Belajar Bahasa Banjar – 2 -

Bahasa Banjar adalah bahasa yang dipergunakan oleh suku Banjar/Urang Banjar yang pada mulanya mendiami hampir seluruh wilayah Kalimantan. Melalui berbagai macam peristiwa suku Banjar menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, Malaysia dan Brunei. Wilayah komunitas Urang Banjar terbanyak selain di Kalimantan Selatan berada di Sumatera, khususnya di Tambilahan, Muara Tungkal dan Sapat.

Kalau Anda perhatikan Urang Banjar yang sedang berbicara bahasa Banjar, ada pengucapan atau penggunaan kosakata yang berbeda tetapi mempunyai arti yang sama atau mirip. Bahasa Banjar terbagi menjadi dua dialek besar yaitu Bahasa Banjar Kuala, kita singkat BBK. Dan Bahasa Banjar Hulu Sungai, kita singkat BHS.

BK biasanya dipakai oleh orang-orang yang bermukim di daerah Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, Pelaihari, Tanah Bumbu, Kotabaru. Sedangkan BHS biasanya dipakai oleh orang-orang yang bermukim di Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan, Tabalong. Pemakai dialek BSH lebih banyak dan terbagi-bagi lagi menjadi berbagai sub-dialek.

Perbedaan dialek kadang hanya dibedakan oleh penyebutan huruf vokalnya saja. Oleh karena itu apabila Anda mendengar Urang Banjar mengucapkan sesuatu jangan buru-buru buka kamus, siapa tahu itu hanya dialeknya saja padahal artinya Anda sudah tahu.

Contoh :
longor (BBK) = lungur (BHS) = kepala gundul, rambut rontok/jarang.
gemet (BBK) = gimit (BHS) = pelan
sedang (BBK) = sadang (BHS) = cukup

BBK dan BHS juga berbeda dalam awalan
Contoh :
“be” (BBK) = “ba” (BHS) = bekunyung (BBK) = bakunyung (BHS) = berenang

Demikian sekilas mengenai BBK dan BHS yang sering kita dengar dalam percakapan bahasa Banjar. Akan kita bahas lebih lanjut.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Syair Sejarah Negara Dipa – 5 -

5

- – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – -
Setelah seluruh perwira dan bawahan berkumpul, maka Empu Jatmika mulai menerangkan maksud hatinya. Menjelaskan mengenai amanat ayahanda. Empu Jatmika terkenal bijaksana meskipun sebagai pimpinan tapi tetap mempertimbangkan saran dan pendapat para bawahan. Sehingga rakyat mencintai dan merasa memiliki segala hal yang diputuskan.
- – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – -

Empu Jatmika mulai menerangkan
Maksud dan tujuan dalam kerapatan
Apa yang kurang boleh ditambahkan
Segala pendapat kita simpulkan

Segala kesimpulan permusyawaratan
Dijadikan dalam satu keputusan
Harus segera dikerjakan
Agar tercapai semua tujuan

Keputusan rapat dibacakan
Kepada hadirin yang mendengarkan
Negeri Keling harus segera ditinggalkan
Siapkan semua alat perlengkapan

Semua keluarga diberitahukan
Kumpulkan semua harta kekayaan
Janganlah sedih janganlah duka
Sudah kehendak Yang Maha Kuasa

- – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – -
Akhirnya diputuskan untuk segera meninggalkan negeri Keling beserta seluruh keluarga, perangkat alat dan kekayaan. Keluarga Mangkubumi memiliki satu armada kapal yang  jumlahnya besar. Si Prabayaksa merupakan nama kapal utama dikemudikan oleh nahkoda tangguh Wiramartas. Setelah waktu yang disepakati tiba mulailah mereka berangkat mengarungi laut menunaikan amanat ayahanda.
- – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - -

Empu Jatmika dengan kedua putra
Sira Manguntur dengan ibunya Sitira
Menumpangi kapal si Prabayaksa
Kapal besar pimpinan armada

Kapal layar si Prabayaksa
Kapal pelopor sekalian armada
Dipimpin oleh Kepala Nahoda
Wiramartas yang bijaksana

Hulubalang Penganan Pengiwa
Arya Megatsari, Tumenggung Tatah Jiwa
Tetap mengawal Empu Jatmika
Serta sekalian keluarga

Waktu berangkat sudahlah tiba
Di ampat belas bulan, bulan ketiga
Armada siap nahoda siaga
Menunggu perintah kepala nahoda

(bersambung)

Mengenal Nama Lambung Mangkurat

Bagi yang pernah ke Kalimantan Selatan dan memperhatikan suasana disini, pasti akan mengenal nama Lambung Mangkurat. Nama ini dipakai oleh universitas tertua di Kalimantan yaitu Universitas Lambung Mangkurat atau sering disingkat UNLAM. Tetapi banyak juga generasi muda Banjar sekarang hanya tahu namanya saja. Padahal tokoh ini adalah tokoh yang paling disebut peranannya dalam sejarah Kerajaan Negaradipa cikal bakal Kerajaan Banjar, setara dengan Mahapatih Gajah Mada dari sejarah Kerajaan Majapahit.

Tokoh legendaris ini menurunkan keturunan raja-raja Banjar berikutnya sebab Lambung Mangkurat adalah ayah dari Putri Kahuripan (hasil perkawinannya dengan Dayang Diparaja) yang kemudian dijadikan permaisuri oleh Raden Suryaganggawangsa. Adapun turunan raja-raja Banjar bermula dari Majapahit, yaitu Pangeran Suryanata (Raden Putera) adalah putra dari Kerajaan Majapahit hasil dari pertapaan.

Mangkubumi Lambung Mangkurat dikenal sebagai tokoh dengan pribadi setia dan bijaksana, tokoh kenegaraan yang cakap, tokoh militer yang tegas tanpa pilih kasih, dan sekaligus sebagai orang tua dan pendidik. Kepribadian Lambung Mangkurat selain ditentukan faktor keturunan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pada masa itu faktor lingkungan yang sangat berperan adalah sebuah lingkungan dengan unsur magis.

Di dalam sejarah kerajaan di Indonesia, sering kita temui tokoh-tokoh dengan nama binatang sebagai nama orang untuk menunjukkan fungsi atau sifat yang menyerupai nama tersebut. Misalnya Hayam Wuruk, Gajah Mada, Nara Singha Murti, Tiung Wanara, Lembu Tal, Lembu Peteng, dan salah satunya Lembu (Lambung) Mangkurat.

Nama Lambung Mangkurat terjadi dari gabungan kata “lambung”, “mangku”, “rat”. Kata “lambung” adalah dialek Banjar yang berasal dari kata “Lembung”. Di dalam bahasa Banjar huruf  ‘e’ (pepet) sering diucapkan ‘a’, misalnya kata “sesak” menjadi “sasak” sehingga “lembu” juga diucapkan menjadi “lambu”

Dari contoh itu bisa disimpulkan kata “lambung” berasal dari “lembung” kemudian terjadi penambahan “ng” akibat penyengauan untuk memudahkan penyebutan bagi masyarakat setempat zaman itu. Mungkin juga tambahan “ng” menurut bahasa Jawa Kuna/Bahasa Kawi sehingga apabila diuraikan menjadi “Lembu ng Mangkurat”. Kata “ng” menunjukkan kepemilikan (milik/menyerupai/menyamai)  atau bisa juga sama dengan kata “yang”.

Adapun gabungan kata “mangkurat” berasal dari kata “mangku” artinya memangku, mendukung, dan kata “rat” berarti jagat, dunia. Jadi seluruh gabungan “Lambung Mangkurat” berarti “lembu yang memangku dunia”. Di dalam agama Hindu Lembu/Sapi adalah binatang suci karena kesetiaannya disebabkan binatang ini menjadi kenaikan Mahadewa Siwa, dalam legenda dulu Sapi juga diceritakan sebagai binatang yang menyandang bumi di pundaknya.

Demikian sekilas tinjauan mengenai nama Lambung Mangkurat supaya generasi muda Banjar tidak terputus hubungan dengan sejarah.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !